Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Lembaran Cerita Tentangmu


Hari ini angin bertiup penuh nafsu. Ranting-ranting mengetuk-ngetuk pelan jendela dilantai dua. Anita memandang keluar jendela dengan gusar. Bukan karena cuaca yang meyeramkan itu tapi lebih pada tumpukan barang-barangnnya yang sudah tertumpuk rapi dilantai kamarnya.
Hari ini keluarganya berencana pindah rumah. Buth sehari penuh untuk membereskan sisa barang-barangnya. Yang sudah mulai diangkut kedalam truk. Hari itu juga mereka akan meninggalkan Jakarta
“Sayang, sudah belum beres-beresnya?” suara Mama terdengar mengalahkan suara ribut diluar jendela. Anita menoleh kearah tumpukan kardus di depannya. Sudah rapi, pikirnya.
“Belum Ma, sebentar lagi,” jawab Anita bohong. Dia menghempaskan tubuhnya diatas kasur yang selimutnya sudah tidak lagi disana. Matanya menatap ruang kamarnya meneliti setiap sudutnya. Berusaha menyimpan semua detail kamarnya dalam memorinya. Lalu ekor matanya berhenti pada lemari kayu yang ada di sudut ruangan dekat jendela. Di atasnya, kotak biru tua diam tidak tersentuh. Dengan bantuan kursi belajar kotak itu berada kini dalam genggamannya. Anita tidak begitu ingat kotak apa dan kapan dia meletakkannya diatas. Yang dia tahu dia sudah berhasil menyembunyikan kotak itu bahkan dari dirinya sendiri.
Setelah kembali pada posisinya dibukanya kotak biru itu. Didalamnya ada beberapa lembar foto, foto dirinya juga teman-temannya. Satu persatu dikeluarkannya. Sekarang semua foto itu sudah bertebaran di atas kasur. Tapi yang mengganggunya adalah sebuah buku merah kecil. Buku itu memiliki gembok kecil berwarna silver yang mengunci setiap lembarannya. Anita menuang semua isi kotak itu hingga berserakan. Mencari kunci yang mungkin cocok dan dia yakin pernah menaruhnya disana.
Binggo!” teriaknya perlahan setelah menemukan kunci perak kecil yang pas dengan lubang kuncinya. Anita sekarang sudah terbenam dalam tulisan-tulisan buku itu. Dia baru ingat ini adalah buku diary-nya ketika masih SMP.
Di halaman pertama.
Asiknya jalan-jalan sama temen-temenku. Pulangnya mampir beli Pop Ice, emmm enak ^_^.
Anita tertawa membayangkan hari itu. Mereka pulang lebih awal lalu memanfaatkan untuk berjalan-jalan sebentar. Yah sebentar bagi mereka tapi ternyata hari sudah sore ketika mereka tiba di rumah masing-masing.
Anita membalik lembar demi lembar mengingat kejadian yang mulai dilupakannya. Lalu tangannya berhenti ketika dia mulai menyadari hampir setengah halaman terakhir hanya satu nama yang menghiasi catatan hariannya itu.
Hari ini ada murid baru. Namanya Dika. Padahal sudah dua minggu pelajaran dimulai, paling-paling sengaja supaya tidak ikut MOS kemarin. Anaknya juga keliatannya agak nyebelin. Hari pertama aja udah bikin ribut. Pasti hari berikutnya gak bakal tenang deh.
Anita mengingat-ingat kejadian itu. Gambaran-gambaran yang berhubungan dengan hari itu muncul seperti dipantulkan ke langit-langit kamarnya yang putih.
***
Anita duduk dibangku baris kedua dari pintu. Disebelahnya Elli mengikut lengan Anita dengan tidak sabar mencoba mengalihkan perhatian temannya itu dari buku bacaannya. Anita menutup bukunya menyadari wali kelasnya sudah berdiri di depan kelas.
“Perkenalkan saya Dika Bagus. Pindahan dari Bandung,” sapa seorang anak laki-laki yang masuk bersamaan dengan wali kelasnya. Setelah dia duduk di bangku tepat dibelakang Anita, pelajaran pun dimulai seperti biasa. Hanya saja jam-jam saat guru tidak ada dikelas jadi terasa berbeda.
Suasana kelas yang bising karena suara anak-anak yang bernyanyi dengan setengah berteriak memenuhi ruangan. Dan Dika anak yang baru saja bergabung pagi tadi sudah ikut menyumbang suaranya. Anita mencoba menenggelamkan pikirannya pada buku yang sejak jam pelajaran tadi tersimpan dalam lacinya.
Hari-hari berikutnya pun suasana semakin gaduh. Bahkan sepertinya dia menjadi pelopor dari semua kejahilan baru di kelas ini.
“Aduh sepatuku kemana ya?” Dita menilik setiap sudut rak kecil itu yang biasanya penuh dengan sepatu. Hari sudah begitu terik. Matahari sudah berada tepat diatas kepala mereka beberapa waktu lalu. Dita dan Anita mencari lagi di sudut aula yang mungkin mereka lewatkan. Hasilnya nihil.
Sebuah bayangan muncul di depan Anita. Menghalangi panasnya matahari yang menyengat. “Nyari apa sih?” Dika sudah berdiri dibelakangnya. Matanya menoleh ke kiri-kanan ikut sibuk mencari. Hari ini kelas mereka menggunakan aula untuk latihan senam karena itu sepatu kami ditinggal di rak dekat aula.
Spontan Anita berdiri menghalangi pandangan Dika, “elo umpetin dimana sepatunya?” tuduh Anita. Dika diam lalu tertawa sendiri. Dengan sebelah tangan mendorong tubuh Anita sedikit kesamping hingga dia kembali leluasa melihat sekelilingnnya. Anita tidak mau kalah dia hanya diam, bergeming.
“Enggak ada anak lain yang kekanak-kanakan kayak elo,” tantang Anita sekali lagi. Dia yang selalu merasa bisa menandingi siapapun tidak mau dianggap remeh oleh anak seperti Dika.
Dipandanginya  Anita jengah. Lalu dengan enggan berjalan ke dalam aula ketempat deretan kursi paling belakang. Mencoba mencari sesuatu di antara tumpukan kursi. “Ini! elo enggak asik,” disodorkannya sepasang sepatu hitam milik Dita lalu segera berlalu.
***
Angin berhembus semakin kencang karena jendela yang tidak dikunci terbuka oleh dorongan angin. Anita bangkit dari tempat tidurnya. Menutup jendela lalu duduk di meja belajarnya yang belum sempat terangkut. Beberapa halaman menceritakan kejahilan demi kejahilan Dika. Dia merasa aneh sendiri karena Dika yang merupakan musuh besarnya malah mengisi hampir seluruh halaman diarinya.
Perlahan titik-titik air jatuh menimbulkan suara yang berirama. Dari atas jendela dia dapat melihat orang-orang yang membantu ayahnya masuk kedalam rumah. Setelah menutupi bagian truk dengan terpal biru.
“Kok hujan ya Ma,” Anita sudah berada dibawah menikmati secangkir teh panasnya melihat satu persatu barangnya diturunkan dari lantai atas.
“Iya, semoga tidak tambah lebat jadi kita tidak terlambat nanti.”
Karena semua pekerjaannya sudah selesai Anita menyelinap kebelakang rumahnya. Duduk diatas ayunan dengan atap kecilnya yang cukup menghalangi gerimis jatuh di atas kepalanya. Diapun kembali larut dalam buku kecilnya. Berbeda dengan halaman lain yang menceritakan kejahilan Dika. Kalimat yang dia tulis disini membuat dia mengulanginya beberapa kali. Takut kalau dia salah membaca atau salah ketika menuliskannya dulu.
Kalau dari dekat dia sedikit jinak. Hihihi. Tapi ternyata cowok jahil ini lebih mahir dari aku. Sebel deh. Yah tapi dia cukup baik nawarin jawaban di soal terakhir. Duduk sebangku gak rugi juga.
 Melihat itu tidak mungkin ditulis oleh orang lain Anita membalik lagi halaman sebelumnya dan mendapatkan catatan ketika mereka diminta duduk berdua oleh wali kelas.
Huh kenapa sih harus duduk sama dia. Biar gak berisik apanya. Dia itu gak mungkin diem walau sudah dipindah keujung dunia.
***
Kalau hari ini Wenda yang badannya lebih berisi, masuk dengan tubuh langsing seperti gambar artis di majalah yang setiap hari dibawanya mungkin Anita tidak akan sekaget ini. Tapi dengan tatapan maut gurunya yang satu itu Anita menyeret tasnya dengan terpaksa. Menempati tempat duduk di belakangnya. Raut wajah Melinda terlihat cerah berlawanan denga Anita yang mendung disertai hujan badai, suram.
“Kenapa, gak seneng ya duduk sama gue?” Tanya Dika dengan wajah innocent-nya. Anita sendiri sudah duduk sambil menggerutu sendiri berusaha mnghindari pecah perang yang kesekian kalinya dengan makhluk disampingnya. Dengan senyum mencurigakan setidaknya bagi Anita Dika menambahkan, “aku gak gigit kok udah jinak nih.”
Oh my god.”
Hari hari berikutnya berjalan tidak baik tidak juga buruk. Semua murid diam dengan keadaan yang tidak bisa dibilang wajar. Karena guru killer sedang menghakimi muridnya yang tidak bisa menjawab soal yang dia berikan.
Satu persatu mencoba tentu saja bukan secara sukarela tapi seperti antrian maut. Dan sekarang tinggal lima orang lagi sebelum tiba giliran Anita.  Keringat dingin sudah membasahi tangannya. Karena dia belum bisa menaklukkan soal itu, alhasil dia pun akan bernasip sama seperti temannya. Berdiri di depan sampai ada yang bisa menjawab.
Empat, tiga, belum ada yang bisa menjawab dua, konsentrasinya sudah pecah dari tadi padahal hanya hitungan akhir saja yang belum selesai.
“Nih,” diliriknya sekilas lalu beralih pada empunya buku yang menatap lucu orang-orang di depan yang panik.
“Anita, maju,” Ibu Sesil memperhatikan gerak gerik Anita dari balik kaca matanya. Anita yang sudah pasrah merasakan Dika mendekatkan bukunya dengan gaya mendesak yang tidak kalah dari Ibu Sesil dengan tetap memperhatikan ke depan, takut ketahuan.
***
Sekarang Anita ingat karena jawaban Dika waktu itu dia dan teman-temannya di bebaskan dari hukuman Ibu Sesil. Walau PR berikutnya tetap tidak ada ampun. Dan diam-diam Dika menunjukkan kemampuannya dan selalu membuat Anita terkesan. Walau sifat kasar dan jahilnya juga semakin kelihatan.
Anita tidak terlalu ingat ketika dia melihat Dika sebagai musuh perlahan-lahan mulai tertawa bersama. Bahkan ada sedikit perasaan aneh terselip dalam setiap tawanya itu. Dibalik lagi halaman buku kecil itu dan membaca satu-persatu kejadian yang mungkin telah terlupakan. Walau detail ceritanya memang sudah sedikit memudar tapi dia masih bisa merasakan perasaan itu sampai sekarang. Dan semakin terasa aneh setiap kali membaca kata-katanya sendiri tentang bagaimana dia menggambarkan Dika.
Kenapa dia harus berdiri disana? Apalagi tanpa seragamnya yang biasa. Bersandar di pagar hitam sekolah, sambil mendengar kan lagu dari IPod-nya. Hari ini masih terlalu pagi yang lain belum datang. Hingga gak ada yang tahu aku memperhatikan dia. Aku sendiripun tidak sadar sudah memandangnya terlalu lama. Tapi dia tidak juga sadar aku disana. Atau hanya perasaanku, aku lihat dia menoleh sekilas lalu tersenyum?
***
Hari masih terlalu pagi karena itu Anita memanfaatkannya dengan berjalan santai ke sekolah. Berhubung hari ini hari minggu jalanan sudah dipenuhi orang yang berlalu lalang untuk sekedar jalan pagi. Anita tidak akan kecewa lagi kalau ternyata belum banyak murid lain yang datang apalagi di minggu pagi seperti ini. Seperti latihan renang dua minggu lalu.
Anita berhenti walau jarak gerbang sekolahnnya hanya sekitar lima meter lagi. Dilihatnya seseorang bersandar dipagar sekolahnya yang hitam. Hanyut dalam lagu yang didengarkannya lewat headset yang terhubung dengan IPod-nya. Anita berjalan perlahan menghampirinya. Bahkan sampai jarak mereka cukup dekat untuk saling menyapa.
Kemudian Anita memilih bersandar di pagar disamping Dika. Diperhatikan jalanan yang masih lenggang dari murid-murid lain.
“Pagi banget datengnya?” Tanya Dika begitu menyadari kehadiran Anita disampingnya.
“Kayaknya gue selalu dateng jam segini deh,” jawab Anita.
Dika mengangkat bahu tanda tidak terlalu peduli lalu kembali mendengarkan IPod-nya. Anita sendiri berusaha menyibukkan diri dengan melihat apapun yang ada di sekitarnya. Dia tidak tahu harus berterima kasih atau tidak karena waktu itu terasa begitu lama.
“Elo kenal Elina?” Tanya Dika.
“Kenal kenapa?” Anita balik bertanya.
Dika membiarkan earphone-nya tergantung begitu saja.
“Bilang sama dia Gue gak suka dia deketin gue terus” ucapnya ambigu, “gue gak suka cewek yang kecentilan”.
Entah perasaan aneh apa yang membuncah memenuhi rongga dadanya. Anita tidak sempat lagi memikirkan apapun karena suara Melisa memecah kesunyian yang aneh diantara mereka.
***
Anita menutup buku kecilnya. Memperhatikan satu persatu barang-barangnya sudah mulai diturunkan. Beberapa hari sebelumnya Anita sdah berpamitan kepada teman-teman disekolahnya. Karena bukan hanya Anita saja yang akan melanjutkan sekolah ke luar kota.
Tapi khusus untuk sahabat nya selama tiga tahun, mereka sudah menggelar acara perpisahan sendiri kemarin di rumah Anita. Karena Anita menolak mereka mengantar kepergiannya hari ini.
Sudah lama Anita mencoba melupakan bayangan Dika. Apalagi setelah kepergiannya di tahun kedua dengan alasan yang sama ketika pindah ke sekolah Anita. Mengikuti orang tua. Sekarang ketika semuanya sudah hampir pudar buku kecil ini kembali mengingatkan dia pada Dika.
Kalau saja dulu Dika tidak sering membelanya ketika sedang beradu mulut dengan anak berandal kelasnya. Entah karena pelajaran, PR atau Anita yang dengan beraninya menantang mereka karena keisengannya. Pembelaan Dika yang terang-terangan membuatnya merasa gerah.
“Anita, ayo kita sudah harus berangkat,” suara mama bergema diruangan yang hampir kosong. Anita segera mengambil tas kecilnya di meja.
Anita memilih duduk di belakang karena di kursi depan sudah ada Ibunya. “Loh ayah tidak ikut?” tanyanya begitu menyadari ayahnya tidak ikut masuk kedalam mobil.
“Kalian duluan saja, Ayah nanti menyusul setelah semua barang sudah rapi.” Perlahan mobil sedan biru ayahnya mulai berjalan menjauh. Kalau saat itu Dika pindah ke Jakarta karena mengikuti kedua orang tuanya, maka sekarang Anitalah yang menggunakan alasan itu untuk pindah ke Bandung.
Didapatinya halaman terakhir buku itu masih kosong, dan menorehkan beberapa kalimat disana.
Apakah benar yang orang bilang bahwa dunia itu sempit. Kalau iya aku ingin mempercayainya. Untuk memastikan perasaanku sendiri.

Pernah Dipostkan di : http://www.kemudian.com/node/262882 

Rabu, 29 Februari 2012

Lilin-Lilin yang Kesepian



Kamu harusnya sudah tahu kalau aku benci filosofi-mu tentang lilin-lilin itu. Tapi kamu selalu tidak peduli. Kamu malah bercerita dan bercerita lagi. Tapi setiap aku pasang tampang kesal kau malah tertawa dan bilang aku lucu.

Kamu ingat hari pertama aku mengajakmu bicara? Hari itu gelap gulita. Lampu seluruh komplek kita mati total. Aku akui aku memang takut hari itu. Aku harap aku tidak pernah mengakuinya padamu seperti yang aku lakukan saat ini.

Dari atas kamar, aku hampir berteriak dan menangis. Lalu aku melihat satu-satunya cahaya dari jendela kamarku. Bulan hari ini tampak penuh. Aku beranikan diri melihat keluar disana aku bisa melihatmu. Duduk di taman dengan dikelilingi cahaya lilin yang kau bentuk sedemikian rupa. Sesuatu yang indah lalu aku berteriak memanggilmu ‘gadis lilin’. Aku masih ingat ekspresi kaget mu yang melihatku tiba-tiba berteriak sambil melambai-lambai senang. Kau haruslah maklum saat itu kan aku baru tujuh tahun. Tapi toh kamu tersenyum juga.

Esok harinya aku pergi kerumahmu. Padahal tujuh tahun sebelumnya kita seperti tidak saling mengenal. Padahal rumah kita hanya terpisah tembok saja. Itu juga tidaklah terlalu tinggi. Tapi yah sudahlah toh akhirnya hari itu kita saling bertukar nama. Nuraini. Nama yang indah tapi ‘gadis lilin’ terasa lebih spesial bagiku maka dengan itulah aku selalu memanggilmu. Dan kau tetap memanggilku Satria.

Sejak itu esoknya aku datang lagi, dan esoknya, dan esoknya lagi. Sampai aku lupa kalau aku sudah terlalu akrab denganmu. Dan setiap siang sepulang sekolah aku menemanimu belajar. Padahal kau sedang home schooling tapi Ibumu selalu senang menyambutku di depan pintu, memberiku segelas minuman dan cemilan. Lalu membiarkanku ikut belajar menemanimu.

Hari itu kita sama-sama berumur lima belas tahun. Aku masuk ke SMA dan kau masih tetap mengikuti home schooling. Tapi aku selalu menyisakan waktuku untukmu. Terlalu sering hingga aku tidak sadar kebiasaan itu mengikatku. Dan aku berharap kau juga merasakannya. Kau tahu? Sampai sekarang aku selalu bisa menebak pikiranmu, kecuali semua pikiranmu tentangku. Seperti, apa yang kau pikirkan saat aku setengah mati berusaha tenang kalau kau berdiri terlalu dekat denganku hingga wajah kita hanya berjarak beberapa senti saja. Kadang kau tersipu oleh ocehan teman-temanku yang aku kenalkan padamu.

Ah, aku ingat hari itu. Seperti hari-hari biasa denganmu yang akan selalu aku kenang. Terkadang aku berpikir kapasitas otakku besar juga. Bahkan aku masih ingat setiap kali kau memanggil namaku dengan berbagai ekspresi. Siang itu aku tidak datang kerumahmu, kegiatan disekolah hari ini menahanku. Hingga sore hari dan gurumu sudah bersiap pulang. Payahnya tugas itu terpaksa aku bawa pulang ke rumah beserta beberapa orang temanku yang mau tidak mau harus ikut. Kau tahu, ekspresi terkejutmu itu lucu, saat itu kau bersembunyi di balik pohon bunga yang berdiri diantara rumah kita. Aku tidak tahu kenapa kau tidak memperhatikan kawan-kawan sekitarku lalu meloncat ke depan dan memelukku seperti biasa. Berharap aku terkejut. Kau berhasil membuatku terkejut juga kawan-kawanku. Melissa, Johan, Gia dan Deri. Lalu kau sendiri terkejut bukan main lalu lari masuk kedalam rumah. Saat itu terpaksa aku meninggalkan kawan-kawanku mengejarmu. Tapi yang aku dengar hanya isak tangis dari balik pintumu yang putih.

Lama sampai kau mau keluar dan mengikutiku. Aku kenalkan kau dengan temanku satu per satu. Disanalah aku melihat wajahmu yang tersipu saat Gia bertanya apa aku pacarmu. Lalu kau bersembunyi dibelakangku dan memanggil namaku dengan merajuk. Memintaku mengantarmu pulang. Dan sejak hari itu mereka sering datang dan menggodamu.

Kau tau ‘gadis lilin’ ku, sejak kawan-kawanku sering datang dan meledek kita aku mulai menyadari kehadiranmu lebih dari sekedar filosofi lilin yang kau agungkan. Tentang cahaya yang terang dan perlahan memudar. Bahkan sampai sekarang aku masih berfikir lilin itu tidak akan padam.

Aku hampir yakin bahwa kau juga merasakan hal yang sama. Tapi terkadang kau juga sering mengacuhkanku tanpa alasan yang jelas. Seperti hari itu, pagi yang indah dengan matahari yang tidak terlalu panas. Kita duduk berdua melihat langit. Berusaha menebak awan seperti anak kecil. Tapi kau senang aku tahu itu. Lalu kau bisa tiba-tiba murung dan diam untuk waktu yang lama. Terkadang berhenti bicara padaku. Yang aku tahu tidak akan bertahan lebih dari satu hari. Setelah segala upaya menggodamu yang membuatmu tersenyum lagi.

Aku ingat salah satu percakapan kita di hari yang sedikit mendung. Saat itu kau bertanya padaku kenapa aku selalu memanggilmu ‘gadis lilin’. Aku tersenyum tapi sebenarnya agak sedih juga, kau tahu? Itu hari pertama aku melihatmu dan kamu satu-satunya yang bersinar diantara lilin-lilinmu. Dan saat itu aku habiskan waktu sampai lampu menyala dengan melihatmu di bawah. Samar-samar juga aku lihat kedua orang tuamu di dalam. Berteriak-teriak mungkin mencari lilin yang sudah kau bawa keluar semua. Seperti di rumahku semuanya berisik. Karena itulah aku memanggilmu ‘gadis lilin’.

Nuraini, ‘gadis liiln’-ku. Karena dirimu butuh waktu lama untukku memandang lilin menjadi sesuatu yang indah seperti saat aku bertemu dirimu.

Ini, sudah setahun, aku tidak pernah menemuimu lagi. Aku takut, aku sedih, kehilangan sesuatu yang bersamaku setahun ini benar-benar menyiksa.

Nuraini? Bolehkah aku tetap memanggil mu ‘gadis lilin’ karena ini panggilan khusus untukmu dariku.
‘Gadis lilin’-ku, sekarang aku akan menyalakan lilin-lilin ini untukmu, seperti katamu

Lilin-lilin ini begitu indah
Dengan cahayanya yang benderang
Bersinar dengan bahagia
Hingga dirinya lebur dalam gelap gulita.

Selama ini aku bersikeras bahwa kau tidak perlu menjadi seperti lilin-lilin itu. Terlalu melankolis. Terlalu sedih. Maka setiap kau ceritakan cerita tentang lilin-lilin itu aku selalu kesal. Pun ketika aku tahu penyakit itu sudah setia bersamamu bertahun-tahun lalu. Jauh sebelum kita akhirnya saling menyapa. Aku semakin kesal kendati kau semakin menggilai filosofi mu tentang lilin-lilin itu.

Bagiku kau hanyalah lilin kecil yang redup diantara lampu-lampu. Dan kau merasa cahaya terang ini berasal darimu.

Air mata ini masih saja keluar mengaburkan pandanganku pada cahaya lilin kecil terakhir yang aku bawa yang sebentar lagi kehilangan cahayanya. Dan satu hembusan angin kecil sudah memadamkannya. Batu nisanmu itu kembali gelap melebur dalam malam dan isak tangisku.



Selasa, 09 Agustus 2011

Revisi_Lingkaran Setan

Ini merupakan revisi dari tulisanku sebelumnya
yang aku ikut sertakan dalam ajang 

Aku berdiri membelakangi matahari yang masih belum menampakkan dirinya. Dengan dua bilah pedang yang setia menemaniku dan puluhan orang berdiri dibelakangku. Masing-masing dari mereka membawa senjata bermacam jenisnya. Keberadaan kami disini bukanlah yang pertama dan mungkin bukan pula yang terakhir. 

Masih segar dalam ingatanku. Hari pertama menjejakkan kakiku di tempat ini. Bersama paman dan dua bilah pedang ditangan yang tidak berhenti bergetar. Aku tidak menyadarinya, sejak hari itu jiwaku telah terbelenggu dan tidak akan dapat terbebas lagi. Oleh belenggu yang yang disebut  ‘dendam’.

Matahari telah menampakkan sebagian wajahnya. Memaksaku untuk fokus dan waspada. Namun, pikiranku melayang jauh. Jauh mengingatkanku kembali ke penghujung hari itu. Hari dimana semua ini mungkin bermula. Bagiku.

Mereka pulang. Iring-iringan pemuda dengan senjata bermacam jenisnya. Serta aroma anyir yang membuat aku menyingkir. Berburu?  Bukan! Karena tak pernah aku melihat satupun hewan yang berhasil mereka bawa pulang. Beberapa orang menghampiriku. Menghentikan gelak tawa dengan kawanku. Aku angkat kepalakku tinggi-tinggi sekedar untuk melihat dengan jelas pemilik kaki besar itu.

“Bunuh! Bunuh! Bunuh mereka. Untuk Ayahmu!” Kalimat itulah yang diucapkannya sambil menatapku tajam. Penuh kebencian dan rasa sedih. Tubuh besar itu kemudian berlalu. Menemui ibuku di dalam. Aku tidak mengerti tapi, aku mendengar Ibuku menangis. Tak lama pemilik tubuh besar itu keluar. Dia berlutut lalu mengusap rambutku, sayang. Aku menatapnya lekat. Dialah pamanku. Sebelum pergi dia membisikkan kalimat itu lagi. Aku tidak mengerti yang aku tahu sejak hari itu ayahku tidak lagi ada disampingku. Untuk selamanya.

Pikiranku kini sepenuhnya terpusat hanya pada satu titik. Karena matahari sudah seutuhnya keluar dari persembunyiannya. Cahaya matahari yang menerangi seluru daratan. Sebagai seorang pemimpin aku harus lebih waspada. Aku angkat pedangku tinggi-tinggi. Aku dapat merasakan barisan dibelakangku mulai bersiap. Begitu tanganku bergerak membentuk sebuah isyarat mereka maju. Bersamaan dengan barisan yang berdiri tidak jauh di hadapan kami. Setelah beberapa barisan maju, aku pun turut serta. Pedang ditanganku tidak berhenti bergerak. Menyerang dan menghalau segala serangan. Entah mengapa setiap aku berada di situasi ini tubuh ini bergerak dengan sendirinya. Naluriku terasa bagitu tajam. Aku tidak bisa berhenti sekalipun ingin. Mungkin ini karena paman.

Sepeninggalan ayah, pamanlah yang menggantikan posisi ayah, memimpin kelompok kami dan menjadi pengganti ayah untukku. Diapun telah mengganti kehidupan kanak-kanakku dengan kehidupan yang berbeda. Sepasang pedang ini, kini sudah seperti bagian dariku. Pedang ini pemberian paman begitu juga cara menggunakannya. Sejak kematian ayah paman memaksaku mempelajari segala jenis kemampuan untuk bertarung. Setiap hari kata-kata yang masuk ke telingaku hanyalah untuk membalas dendam. Semakin hari kemampuanku semakin baik. 

Tiba-tiba sebuah senjata tepat mengenai punggungku. Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sekali lagi pedang itu melayang ke arah wajahku. Reflek serangannya dapat aku halau dengan pedangku dan telak mengenainya. Pedang ini sudah berwarna merah, darah. Bau anyir juga sudah menyeruak dari tubuhku. Inilah yang ternyata mereka lakukan waktu itu. Pulang dengan bau darah di sekujur tubuh mereka. Yang aku lihat ketika aku masih bisa tertawa bersama teman-temanku. Atau mungkin kejadian ini sudah terjadi jauh sebelum itu?

“Kita mundur!” seru lawanku. Satu per satu mereka meninggalkan tempat ini. Sorak-sorai pun terdengar diantara kami. Begitu mereka pergi kami segera merawat orang yang terluka. Dan memberi penghormatan terakhir bagi yang telah gugur.

“Ada apa dengan mu? Lukamu cukup parah tidak biasanya kau seperti ini”.

“Tidak apa-apa”, segera setelah lukaku diobati aku segera keluar.

“Dia masih begitu muda dan tangguh. Kalau orang biasa pasti sudah terkapar mendapat luka seperti itu”.

“Aku rasa tidak. Kalau kau ingat siapa yang mengajarinya bertarung. Dia orang yang sangat keras”. Mendengar percakapan mereka diam-diam, aku hanya mendesah pelan. Mengingat bahwa paman melarangku menangis. Karena itu hanya akan membuatku lemah. 

“Seberapa sakit atau sedih kau jangan menangis. Atau hatimu akan menjadi lemah,” begitulah kata paman. 

Setelah mengobati orang yang terluka kami berkumpul untuk menentukan langkah selanjutnya. Karena kami tahu mereka pasti akan kembali lagi. Apalagi setelah kekalahan mereka kali ini. Meskipun tidak mungkin keesokan harinya. Tapi mereka pasti kembali. Akhirnya kami putuskan orang-orang yang terluka sebaiknya kembali untuk sementara waktu. Dan sisanya tinggal disini untuk mengawasi.

“Lebih baik kau pulang saja, lukamu cukup parah. Akan berbahaya kalau mereka benar kembali dan menyerang kita,” nada bicaranya terdengar khawatir. Aku tahu dia, dulu kami sering bermain bersama dan aku lihat dia juga mendapat luka cukup parah di kakinya.

“Aku tidak apa-apa. Pergilah dulu dengan yang lain”. Dia pun pergi meninggalkanku. Jika mereka pulang akan ada yang merawat luka mereka. Kalau aku pulang tidak akan ada yang menantiku. Ibuku meninggal lima tahun lalu. Semasa hidupnya aku tahu Ibu tidak setuju aku melakukan ini. Pernah sekali aku mendengar Ibu bertengkar dengan paman. Hari itu paman membawaku ikut berperang tanpa sepengetahuan Ibu. Dan itu pun hari pertama aku benar-benar menggunakan pedangku. Saat pulang aku mendapat beberapa luka di tubuhku dan itu membuat Ibu cemas.

“Sudah aku bilang jangan libatkan anakku dalam urusanmu ini,” tangis ibu. Aku yang berdiri dibalik pintu hanya bisa mendengarkan percakapan mereka.

“Ini bukan hanya untukku. Aku mendidiknya agar dia bisa menggantikan ayahnya suatu saat nanti”.

“Itulah mengapa aku tidak setuju! Aku tidak ingin dia pergi seperti ayahnya,” tangis Ibuku makin keras. Biar pun begitu tidak dapat meluluhkan kerasnya hati paman. Dan karena Paman adalah pemimpin tidak ada alasan untuk merubah keinginannya. Begitu ibu membuka pintu didapatinya aku tengah mendengar pembicaraan mereka. Ibu membawaku pergi . Di kamarnya, aku tidur di pangkuannya.

“Menangislah nak, itu pasti sakit kan?” dirabanya luka ditubuhku.

“Menangislah, itu akan membuatmu lebih baik. Ibu tahu pamanmu pasti melarangmu kan?” aku lihat wajah ibu.Matanya sembab. Pasti karena tangisan ibu tadi.

“Sekarang hanya ada kau dan ibu. Tenang saja ibu tidak akan cerita pada pamanmu,” biarpun ibu berkata begitu air mataku sama sekali tidak bisa keluar. Aku hanya menyembunyikan wajahku di pelukannya dan hanya tangis ibu yang terdengar. Mendengar tangisannya hatiku terasa lebih sakit dari luka di sekujur tubuhku.

Aku sendiri menatap langit malam meraba luka di punggungku. Namun air mata ini seakan mengering. Meski pun paman sudah pergi menyusul ayah dan ibuku setahun lalu, tapi pengaruhnya seperti sudah merasuk kedalam diriku.

“Ibu benar, rasanya memang sakit”, gumamku namun air mata ini tidak juga terjatuh.

Ini sudah hari kelima kami berada di tempat ini dan sama sekali tidak terlihat kejadian yang mencurigakan. Jika besok keadaan tetap tenang kami akan kembali dan hanya akan ada beberapa orang untuk berjaga-jaga.

Sebelum kembali aku berjalan-jalan di hutan yang merupakan perbatasan antara kelompok kami dan kelompok musuhku. Disini cukup sepi dan indah untuk menyendiri. Disana aku berharap menemui gadis itu lagi. Seorang gadis bermata teduh yang aku temui waktu itu. Benar saja dia ada di sana duduk menikmati dinginnya air mengingatkanku pada pertemuan pertama kami.

Sejak kematian paman aku sering datang kemari. Hari itu, melihat kematian Paman di depan mataku membuat aku tertekan. Selain paman aku tidak punya siapa-siapa lagi. Saat itu juga pertama kali aku benar-benar marah dan sedih. Pedang di tanganku menyerang dengan ganasnya. Aku berhadapan satu lawan satu dengan kekuatan seimbang. Meskipun dia adalah pemimpin musuh kami dan orang yang telah membunuh paman.

Ketika semua orang membari penghormatan terakhir pada paman dan teman-teman kami yang telah gugur, aku memilih pergi menyelinap ke dalam hutan, menyendiri. Pedang dan tubuhku masih berwarna merah pekat. Begitu sedihnya aku hingga tidak sadar seseorang duduk di sampingku.

“Bukankah tempat ini indah? Tapi kenapa kau bersedih?” tanyanya.

“Andai hidup bisa sedamai ini,” katanya lagi. Aku merasakan seseorang disampingku namun aku tidak dapat mencerna apa yang dia katakan. Kemudian dia terus bicara mengenai banyak hal. Setelah lelah bicara dia pamit pergi.

“Minumlah air ini rasanya sejuk,” diletakkannya sebuah botol air yang diambilnya dari sungai itu disampingku lalu pergi. Sejak hari itu aku sering datang kemari dan setiap aku datang dia selalu ada disana.

“Hari ini kau datang lagi?”  sapa gadis itu begitu menyadari keberadaanku. Aku begitu senang melihatnya. Namun, aku sembunyikan perasaan itu dengan bergumam kecil. 

Aku turut duduk disampingnya memperhatikan riak air yang dibuat oleh gerakan ringan kakinya. Gerakan hutan yang perlahan seperti membawaku ke dunia lain.

“Aku masih mencium bau darah dari tubuhmu,”  katanya seraya menaruh kepalanya dipundakku.

“Selama aku masih berada di tempat ini bau ini tidak akan hilang,” gumamku. Inilah yang membuat aku enggan meneruskan perang ini. Setiap bersamanya aku merasakan sesuatu yang sepertinya sudah lama hilang. Bahkan aku lupa apakah itu benar pernah terjadi. Hari ini sudah hampir berakhir. Memaksa kami berpisah.

Hingar-bingar terdengar jelas ketika aku menginjakkan kakiku di ‘rumah’. Merayakan kemenangan yang kami raih. Begitu melihatku mereka menyambutku seperti seorang pahlawan. Karena di perang hari itu aku berhasil melukai pemimpin lawanku cukup parah.

“Aku lelah. Kalian teruskanlah tanpa aku,” tolakku dan segera kembali ke ruanganku. Aku jatuhkan tubuhku ke atas tempat tidurku kasar. Aku pejamkan mata. Masih dapat kucium bau anyir dari tubuhku. Mengingatkan aku di hari pertama penyeranganku. 

“Paman kenapa kita harus berperang?”, dihadapan paman tubuh seluruhnya bergetar. Dua bilah pedangku masih memancarkan bau menyengat meskipun paman sudah membersihkannya. Dalam hati aku masih tidak percaya atas apa yang telah terjadi tadi. Beberapa goresan pedang ditubuhkupun masih terasa ngilu.

“Kata para tetua, mereka datang kemari menyerbu kelompok kita. Berusaha merebut wilayah kita secara paksa dan telah membunuh banyak orang”. Kalau aku ingat lagi betapa ingin aku menyangkal kata-kata paman saat itu. ‘Kata para tetua’ ? Berarti paman sendiri tidak tahu untuk apa berperang selama ini.

“Mengapa kau tidak keluar dan merayakannya ?” salah satu ‘tetua’ di kelompok kami masuk. Entah mengapa mereka disebut sebagai tetua. Mungkin karena usia mereka yang jauh diatas kami?

“Aku hanya lelah.” jawabku sesopan mungkin. Walau sebenarnya aku enggan bertemu siapapun.

“Sebenarnya untuk apa selama ini kita berperang?” pertanyaan itu terlontar begitu saja.

“Mereka datang kemari. Merebut paksa semua yang kita miliki. Tanah, harta, serta nyawa keluarga kita.” jawabnya sendu.

“Kalau begitu perang ini sudah usai ?” tanyaku. 

“Kalau pun kita menganggap perang ini sudah usai, apa mereka juga beranggapan sama dengan kita?” Hening diantara kami. Aku hanya bisa diam tidak tahu harus menjawab apa.

Dua hari kemudian sebuah surat dikirim kepadaku. Surat itu berisi pemimpin Pedang Perak musuh kami ingin bertemu tapi bukan untuk beradu pedang. Tempat pertemuannya di perbatasan dan hanya boleh disertai dua orang pengawal saja. Hampir setiap orang yang hadir di rapat hari itu tidak setuju aku datang ke sana.

“Ini pasti jebakan.” Seru yang lain. Tapi entah mengapa tekadku untuk datang lebih besar. Maka hari itu aku memutuskan untuk pergi memenuhi permintaan dalam surat tersebut.

“Maaf hanya dua orang yang boleh mengantar.” Dua orang penjaga menghentikan langkah kami.  Sementara yang lain menunggu, aku ditemani dua orang setiaku masuk kedalam hutan tempat pertemuan itu akan dilangsungkan. Dalam hati aku bertanya-tanya kenapa pertemuan ini harus ada di dalam hutan dan tidak di tempat pertarungan biasanya.

“Maaf aku terlambat, tapi bisakah orang-orang mu tidak mendengar pembicaraan kita,” tanyanya. Saat aku memutuskan untuk datang aku sudah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Tapi ini...?

“Tenang saja mereka tetap bisa melihat kita. Jadi kau tidak usah khawatir aku juga tidak akan memerintahkan bawahanku untuk mencelakaimu,” ulang suara lembut itu. Aku harus segera menguasai diriku sendiri sebelum orang-orangku merasa curiga.  

Setelah memastikan mereka tidak mendengar percakapan kami gadis itu menunjukkan sesuatu. Sebuah medali bergambar ‘pedang perak’ yang hanya dimiliki oleh pemimpin musuh kami. Seketika itu juga tubuhku membatu. Meski saat itu dia mengakhiri hidupku untuk membalas dendamnya. Aku pasti tidak sanggup membalasnya.

“Kau...tidak mungkin,” kataku terbata-bata. Terbayang jelas dimataku ketika pedangku melukai  orang itu dan aku tidak bisa membayangkan wajah teduh dihadapanku ini menangis karenanya.

“Aku tahu kau akan terkejut karena itu aku meminta mereka mengawasi dari jauh sehingga tidak bisa mendengar percakapan kita.” Suaranya tetap tenang seperti biasa. Tapi tatapannya tidak seteduh biasanya. Meskipun wajahnya menghadapku tapi matanya sama sekali tidak melihatku. Tatapannya melihat jauh kedepan.

“Apakah kau tahu kalau aku yang telah...”

“Karena sebagai pemimpin yang baru aku ingin menawarkan sesuatu padamu,” dengan cepat dia memotong pembicaraanku. Aku sudah tidak tahan melihatnya begitu. Keinginan untuk membalaskan dendam pamanku sekejap menjadi sebuah penyesalan. Aku sama sekali tidak mampu melihat wajahnya.

“Terima kasih  kau telah membunuhnya,” kata-katanya barusan seperti sambaran petir di telingaku.

“Sebagai anaknya aku sudah bosan melihat dirinya. Juga semua yang dia kerjakan.” Bagaimana dia bisa mengatakan itu pikirku. Bagaimanapun dia itu adalah ayahnya. Begitu aku lihat wajahnya butir-butir air mata sudah jatuh di wajahnya.begitu tanganku bergerak hendak menghapus air matanya dia melangkah mundur.

“Mereka melihat kita. Jika kau mendekatiku aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padamu,” aku lupa posisiku saat ini. Begitu ingin aku menghapus air matanya. Memeluknya atau apapun yang bisa membuatnya lebih tenang.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku?” tanyaku. Mendengarku berkata seperti itu dia tersenyum. Untuk datang menemuiku saat ini pasti berat baginya. Karena itu aku ingin pertemuan ini segera berakhir.

“Kita berdua sama-sama tidak mengetahui kapan perang ini dimulai. Tapi aku yakin kita berdua akan memastikan perang ini berakhir dengan mata kita sendiri.” Aku sama sekali tidak tahu ke arah mana pembicaraan ini.

“Karena itu sebagai pemimpin, aku ingin kita berdua sepakat untuk berdamai.”

“Kau sadar apa yang kau tawarkan?” tanyaku heran.

“Orang-orangku pasti tidak semudah itu menyetujuinya. Banyak nyawa yang sudah hilang karena ini,” dalam benakku terbayang jelas wajah ayah dan paman yang pergi karena perang ini.

“Melihat kematian ayahku juga membuat aku ingin mengakhiri orang yang sudah membunuhnya. Tapi kalau aku lakukan perang ini tidak akan berakhir. Kalau aku membunuhmu pengikutmu pasti akan membunuhku. Lalu kalau aku mati apa ini akan berakhir?” tanyanya.

“Aku tidak tahu,” jawabku.

Setelah pertemuan itu  orang-orang di kelompokku terbagi dua kubu. Sebagian tidak setuju kalau perang ini berakhir begitu saja. Tapi dilain pihak mereka yang sudah lelah berperang menyetujui usulan itu. Meski kekhawatiran masih terlihat jelas diantara mereka.

“Apakah jika kita menyetujui usulan damai ini maka perang akan benar-benar berakhir?” seseorang membuyarkan lamunanku. Makanan yang sudah dihidangkan di depanku sama sekali tidak aku sentuh. Malam ini kami semua berkumpul untuk membahas ini.

“Mereka sudah membunuh kakakku. Aku tidak akan memaafkan mereka!” teriak seseorang di hadapanku. 

“Enak saja tiba-tiba mereka minta berdamai dengan kita.”

“Lebih baik kita pergunakan kesempatan ini untuk menyerang mereka.” suasana malam itu mulai ramai apalagi usulan terakhir berhasil mempengaruhi yang lainnya. Sebagai pemimpin aku sendiri merasa bimbang gadis itu telah mengusulkan sesuatu yang asing bagiku. 

Diam-diam aku menyelinap dan masuk ke ruanganku sendiri. Dua bilah pedangku masih tergantung di tempatnya. Ketika memberikan benda itu paman berpesan padaku agar menjaga keluargaku kelompokku dengan benda itu. Tapi apakah dengan perang ini aku sudah melindungi semuanya. Apakah dengan kematian teman-temanku aku sudah melindungi yang lain?

Pikiranku sangat kacau aku berjalan tak tentu arah yang aku mau hanya menjauh dari keramaian disini. Tanpa sadar langkahku berhenti dan kulihat gadis itu berdiri menatap gerakan air yang tenang.

“Ini sudah larut malam untuk seorang gadis,” sapaku namun, dia hanya diam. Akhirnya kami menikmati malam dengan pikiran kami masing-masing.

“Kau tahu perang ini sudah membunuh ayahku jauh sebelum hari itu,” gadis itu terus bicara sambil masih memperhatikan pergerakan air.

“Aku sudah bosan. Kalau ini terus berlajut. Pasti tidak akan pernah selesai, mari kita selesaikan semua ini dengan cara kita,” wajahnya teduh. Sekilas aku melihat sosoknya yang lain. Benar sosoknya seperti ibu.

Melihat wajahnya yang teduh ingatan itu kembali. Setelah kematian ayahku. Ibuku pergi. Membawa keteduhan yang tersisa yang aku miliki. Sebelum kepergiannya ibu berpesan agar aku mengakhiri semua ini. Saat itu aku sama sekali tidak yakin apa yang harus diakhiri dan bagaimana caranya. Hingga kini. 

Tapi, setelah melihat gadis ini sepertinya aku tahu akhir seperti apa yang Ibu inginkan. Berhadapan dengannya seakan perdamaian itu benar-bernar sudah terwujud. Kebimbangan ku hilang sudah.

Aku ucapkan terima kasih padanya atas pertemuan yang tidak terduga ini. Walau sebenarnya sangat aku harapkan.

Saat aku kembali hari sudah hampir pagi. Begitu terkejut begitu ku lihat serombongan orang sudah siap untuk berperang di hadapanku.

“Sebelum mereka menyerang kita lebih baik kita menyerang mereka sekarang,” seorang pemuda berdiri dihadapanku sebagai juru bicara. Kalau aku perhatikan umurnya lebih muda dariku. Semua orang menatapku menantikan jawabanku. Kemudian aku masuk mengambil pedangku kehadapan mereka.

“Dengar aku akan menyetujui perdamaian perang ini!” kegelisahan terdengar di segala penjuru.

“Mereka datang kemari. Merebut paksa semua yang kita miliki. Tanah, harta, serta nyawa keluarga kita,” aku tidak mungkin memaafkan mereka begitu saja.

“Lalu apakah pedangku ini belum cukup untuk mengambil nyawa mereka yang mungkin ayah dari bayi mungilnya, atau seorang anak yang dinantikan kehadirannya oleh keluarganya?!” Tiba-tiba suaraku meninggi mendengar jawabannya.

“Katakan padaku berapa banyak lagi nyawa yang harus aku ambil?!” tanyaku. Beberapa orang berbisik satu sama lain dan sebagian hanya diam tertunduk. Hari itu aku berhasil menggagalkan rencana mereka. kemudian menyusun rencana perdamaian yang nantinya akan aku rundingkan.

Malam sebelum pertemuan bersejarah itu aku menerima sebuah surat. Sesuai petunjuk dalam surat itu aku pergi ke hutan untuk memenuhi permintaan yang tertulis disana. Di surat tertulis bahwa gadis itu ingin bertemu sebelum kesepakatan besok. 

Lama aku menunggu tapi tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Tiba-tiba seokor ular melilit kakiku. Begitu terkeut kutusukkan belatiku pada ular itu. semalaman aku mencarinya namun tidak aku temukan. Akhirnya ku putuskan untuk kembali.

Ditempat yang sudah disepakati. Aku menunggu. Cukup lama sampai sempat terpikir apakah ini akan berhasil?

Setelah cukup lama mereka datang. Tapi, Aneh! Yang duduk dihadapanku bukan gadis itu. Tapi, orang lain. Kami pun duduk saling berhadapan. Awal sejarah baru akan segera dimulai.

Orang yang ada dihadapanku menunjukkan beberapa tulisan yang menyatakan bahwa mulai hari ini kami kedua pihak akan meletakkan senjata. Detik-detik terakhir kesepakatan damai itu. Sebuah belati kecil mengarah tepat didepan mataku sebelumnya akhirnya aku tangkis.

Sontak semua yang hadir berdiri. Aku coba menenangkan diri. 

“Lihatlah baik-baik belati itu. itu milikmu kan?” aku lihat baik-baik belati itu merak berlumuran darah.

“Benar dari mana kau dapatkan ini?” tanyaku.

“Aku menemukan di tubuhnya yang terkapar di hutan pagi tadi.” Tatapannya begitu tajam menuduhku. Aku marah. Sangat marah. Mendengar tuduhannya. Kepalan tanganku mendarat tepat di wajahnnya. Kutarik dia sampai wajahnya cukup dekat denganku tapi dia tersenyum. Senyum kemenangan.

“Gadis itu terlalu lugu untuk mengusulkan perdamaian. Maka aku membunuhnya,” bisiknya ditelingaku. Belati ditanganku tanpa sadar menusuk tubuhnya.

Aku tahu tindakan bodohku ini telah menghancurkan segalanya. Kesempatanku untuk terbebas dari kutukan ini hilang sudah. Perdamaian ini tidak akan pernah terwujud.

Saat itu juga aku tersadar. Aku sudah terjebak. Sejak kematian ayahku dan takdirku sebagai penerus. Pemimpin atas semua kekacauan ini. Aku yakin setan-setan tertawa begitu juga orang itu. Karena berhasil menarikku kembali kedalam lingkaran setan ini!